Monday, January 23, 2012

PEDIH PERIH RASULULLOH SAW


Ta'awwudz- ku memasuki Surah Hud, disambung dengan indah Basmallah, seakan ingin dan berusaha menyambung alam malakut. Tapi bukan hal yang mudah membuka gerbang alam malakut, apalagi diri penuh dosa dan kerak kerak ujub. Ketika kita buka Al Qur'an dan membacanya, kitapun seperti dihadapkan pada tabir tabir yang menghalangi ke alam malakut. Mulai dari pecah konsentrasi alias sibuk merunut bacaaan yang kadang kita tak lancar, sibuk mengernyitkan dahi ketika berhadapan dengan rentetan Tajwid, megap-megap mengatur nafas ketika berhadapan dengan bacaan panjang nan melengking, arti ayat per ayat, tafsir ayat per ayat. Belum lagi suasana ruangan yang dipenuhi dengan hiruk pikuk duniawi. 

Bukan mengendurkan semangat tartil, namun begitu kenyataan jika dibanding dengan yang hafal, minim hafal pada surah yang dibaca. Di situlah ada kesempatan membuka alam dan gerbang malakut, melakukan komunikasi semi verbal kepada Alloh azzawajallah. Para Hufadz sering dengan tiba tiba menangis, bergemuruh dada, ataupun mengalami euforia ketika menapak ayat demi ayat. sungguh pemandangan yang indah, ketika apa yang kita baca langsung merefleksi pada asbabul nuzul ayat, seolah kita terlibat didalamnya. Disinilah perasaan dan jiwa terlibat dalam rentet kisah indah Sirah Nabawiyah. Sebaik baik penghayat Sirah nabawiyah adalah mereka yang hafal al Qur'an, Subhanalloh. 

Kembali pada surah Hud. Kita sudah sering mendengar kajian tentang surah Hud. begitu pila tafsir-tafsirnya yang secara dominan menyorot bagaimana kisah Nabi Hud dan kaumnya. Namun kali ini saya akan menyorot isi minoritas surah ini bagaimana pedih perih Rasululloh SAW yang tercermin di masa akhir hayat Beliau. Mulai dari kesedihan dan kepedihan tentang sakitnya, tentang galau visinya tentang umat akhir zaman. beliau begitu peduli. sangat peduli.

Bagaimana sopan santun malaikat pencabut nyawa ketika berdialaog dengan Rasululloh SAW. Seolah mengetahui beban pasca kematiannya kelak. Umat...ya Umat akhir Zaman yang beliau cintai. Bagaimana halus perasaan Rasululloh SAW, seakan mengetahui kebingunan umat akhir zaman, dimana mereka mengadu, berkeluh kesah, membagi kesedihan. Umat yang tidak secara langsung melihat beliau, ummat yang tidak bersama beliau semasa hayatnya tapi begitu mencintai beliau, benar benar mencintai......andai rasululloh SAW disisin kalian, pasti ia langsung memeluk kalian. Kalian yang mencintainya, kalian yang mentauladaninya. Beliau pasti menyayangi kalian. kalian yang berjibaku dalam menghidupkan sunnah sunnahnya, kalian yang pontang panting mencontoh suri tauladannya, kalian yang jatuh bangun membelanya,kalian yg tak pernah jumpa dengan beliau. Kalian yang susah payah merapal do'a do'a agar dipertemukan dalam mimpi. Subhanalloh kalian yang mencintainya, walau tanpa pernah melihatnya, tanpa pernah bersamanya. Pedih hati Rasululloh SAW, tanpa bisa langsung membimbing kalian semua. Itulah tangis yang tergambar di akhir hayatnya, bukan warisan yang ia pikirkan, bukan anak anaknya, bukan istri istrinya, tapi kalian !!!!Allohumma sholli 'ala sayyidina Muhammad.

No comments:

Post a Comment