Memasuki al Anfal (rampasan perang) pastilah membawa kita pada hiruk pikuk perang, samangat hamasah jihady, hamasah qitaly, jihady harby, ghazwah, syahid, dan yang berbau militansi. Perang bagi Islam bukan tujuan utama. Islam suka damai, Islam halus perasaan, Islam toleransi tingkat tinggi, islam kasih sayang tingkat tinggi. Engkau lihat bagaimana Rasululloh SAW yang sangat super hiper halus perasaannya.
Bagaimana Rasululloh SAW berhias ahlaq mulia, bagaimana Rasululloh SAW selalu berderai air mata, sebuah parameter kehalusan budi. Pemahaman jihad yang instan membuat jiwa jiwa kasar dan keras. Pemahaman jihad yang prematur membuat simpangan simpangan liar yang pragmatis. Bukan hanya pada pedang Islam mulia, namun pada kasih sayang Islam tumbuh. Hingga pada syariat urutan pertama yang ditawarkan pada orang kafir Harby adalah "tawaran" untuk bersyahadat atau tunduk patuh, dan bukannya langsung hajar pakai pedang. Itu membuktikan Islam cenderung damai dan halus.
Bagaiamana rasululloh SAW memberikan harta rampasaan perang (Ghanimah) kepada Muhajirin dan beliau memilih pulang kembali ke Madinah dengan kaum Anshar, bukti bahwa Rampasan perang bukan tujuan utama......sampah dunia, sabda beliau. Subhanalloh. Bagaimana pula Rasululloh SAW dihajar di Thaif dengan hujan bebatuan, bukannya ia menerima tawaran Jibril untuk menimpuk kembali dengan jabal uhud, namun Rasululloh memilih opsi ampunan bagi penduduk Thaif. Jangan dijadikan hamasah qitaly (semangat jihad) sebagai gaya gayan atau trend setter, namun tempatkan jihad pada porsi yang tepat dan syar'i diatas akhlak al karimah. Kita bukan umat Barbar, namun jika jihad sudah terporsi dan terquota, kitapun berani maju dengan gagah berani. Allohuakbar !!!!
No comments:
Post a Comment