Isu Muntaj Tsaqofi atau menganggap al Qur'an sebagai produk budaya yang sering dihembuskan JIL merupakan cerminan tidak pahamnya akan 'ijaz (Gaya Bahasa tertinggi dan terindah) dalam Al Qur'an sebagai Kalamulloh.
Tanpa memahami frase Akusatif Harfu an Nida' (Interjeksi) dan munada (kata yang diseru), akan menimbulkan kesalahpahaman dan akhirnya menjustifikasi ayat sebagai produk budaya (Muntaj Tsaqofi).
Al Qur'an sebagai (tibyaan li kulli syai’) penjelas segala persoalan inti hidup alias lengkap. Termasuk dalam diversifikasi interjeksi yang kerap mewarnai ayat ayat al Qur'an dalam memberikan perintah perintah secara langsung dan tak langsung.
JIL kerap memanfaatkan asbabul nuzul tanpa menela'ah faktor kaitan lain terhadap ayat. Mereka lupa bahwa Frase Akusatif harfu an nida' pada munada tertentu merupakan gambaran "Interjeksi Global" sebagai sebuah perinta universal. Al Qur'an sebagai "Ibtikari" atau kreatifitas, print out dari produk "Mubtakir" atau kreator.
Sebagai contoh :
Dengan penggunaan frase akusatif harfu' an nida', dan munada yang tepat, tidaklah mengherankan jika ayat-ayat Makkiyyah juga menyapa manusia dengan istilah-istilah yang terhormat tanpa membedakan ras, warna kulit, gender bahkan agama.
Para ulama al-Qur’ân mencirikan pesan risalah periode Makkiyyah, meskipun tidak seluruhnya, dengan misalnya penggunaan kata sapa (Frase Interjeksi /harfu an nida' ) “ya ayyuha annaas” (hai manusia) atau ‘Ya Banii Aadam” (hai anak Adam).
Ini dapat dibaca misalnya pada ayat 13 pada surah al-Hujuraat, “Wahai manusia, Aku ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Aku jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku agar kamu saling mengenal".
Dengan begitu isu muntaj tsaqofi (tuduhan al Qur'an hanya produk budaya lokal dan untuk suku tertentu) terhadap sebagian ayat yang dihembuskan JIL gugur dengan sendirinya. Mereka tidak tsumul dalam pemahaman sisi gramatikal (nahwu Shorof) pada gaya bahasa al Qur'an.
..............................
No comments:
Post a Comment