EMPIRIS EMO-DEPRESIF DAN "NIYAYAH" DALAM ALTER SUFISME
Dengan berbesar hati kita terima segala aliran musik, termasuk yang hiper depresif pun kita arahkan pada empiris yang hasan, empiris yang komunal dan familiar dengan risalah.
Biarpun cordnya menghentak hentak kita dapat dirasakan "sense of depressive" pada liriknya. Semua genre dan subkultur tak dapat dipungkiri pasti bersinggungan dengan "sense of depressive", mau skinhead, metalhead, rastafarian, rockabilly, rocksteady,hardcore, rudeboy, rock n roll hiphop hingga dangdut sekalipun.
Yang menjadi permasalahan adalah mengarahkan "sense of depressive" atau sejenisnya pada hal positif hingga tidak terkesan 'Niyayah" (Meratap berlebihan yang dilarang dalam risalah) hingga kita terhindar dari apa yang disebut dengan golongan peratap atau 'al Tawwabun".
Sebaik ratapan hanyalah rintihan do'a kepada Alloh Azzawajallah.
Alter sufisme merupakan salah satu saluran yang komunal dengan risalah. Tanpa ada rasa Ashobiyah, dapat kita katakan depressif yang baik adalah sufisme. Gaya redaksi ratap dan rintih berbalut do'a do'a memang style dari alter sufime ini. Banyak band band yang berkiblat pada style in, walau tak seratus persen, dan kadang juga tercampur dengan visi lainnya.
Kita ambil contoh milik MOSES BANDWIDTH -LAYLA MAJNUN pada penggalan lirik dibawah ini :
Diufuk hudaibiyah tersirat rintihan tangis....
Kau tiup siluet nafasku pada senja terbentang...
Seuntai anganku terkenang....
Riuh air membisikan kalbu yang rapuh...
Janganlah bercermin dilautan keruh....
Meratap diantara nurani yang mengeluh....
Rengkuh sujud laila Menyimpan tangismu..
Satu nama senantiasa utuh dalam perihmu.."
Menepilah kembali dawai untuk laila...
Perasaan cinta dari majnun...
Moses Bandwith mencoba ber "depressive" dengan alter sufism, dan kita paham mauidhotin hasanah dan 'itibar dari lirik kisah "Para Pecinta" diatas adalah 'Hubbulloh" yang "Sirr".
....................... \m
No comments:
Post a Comment