Monday, February 27, 2012
METODE MUFRODAT LUGHAH DALAM MENGHANTAM GAYA HERMENEUTIKA JARINGAN ISLAM LIBERAL (JIL)
Menafsirkan Alquran secara bahasa (leksikal) itu merupakan tingkat penafsiran terendah . Termasuk JIL kerap ber-Hermeneutika dalam menafsirkan ayat ayat al Qur'an agar sesuai jaman. Gaya hermeneutika ini pertama kali dipopulerkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Penafsiran "bi rakyi" atau dengan akal semata merupkan jejaring liberalis yang sok "up to date". Adalah keblinger jika tanpa dibarengi dengan disiplin ilmu lainnya seperti :
1. Paham makna mufrodat lughah,
2. Ilmu nahwu,
3. ilmu Sorof,
4. I’rob,
5. Ma’ani,
6. Badi’
7. Nasikh Mansukh
8. Asbabunnuzul
9. Penafsiran para ulama terdahulu
10.Mengetahui mana-mana yang disepakati dan yang tidak, dan sebagainya
Subhanalloh......tanpa bil ma'tsur, kacau semua. Islam liberal berpendapat bahwa Al Quran bisa di tafsirkan dengan tafsir hermeneutika karena Al Quran adalah muntaj tsaqofi (produk budaya).
Contoh soal dalam ber-Hermeneutika
Islam Liberal menyatakan bahwa perkawinan antar agama, antara seorang wanita muslimah boleh menikahi laki-laki kafir dengan berpedoman kepada ayat:
“fala tarjiuhunna ilal kuffar” al ayat. Al Mumtahanah : 10
Pemahaman Hermeneutika ala Ulil Abshar Abdala :
“Larangan kawin beda agama bersifat "kontekstual". Pada zaman Nabi, umat Islam sedang bersaing untuk memperbanyak umat. Nah, saat ini Islam sudah semilyar lebih, kenapa harus takut kawin dengan yang di luar Islam. Wanita muslimah diharamkan menikah dengan lelaki kafir karena ketika ayat ini turun sedang zaman perang, tapi sekarang bukan zaman perang maka wanita muslimah boleh menikah dengan lelaki kafir."
Tanpa pemahaman mufrodat lughah yang benar, penafsiran jadi kacau. Mereka melupakan aturan "takhshish bi al-Urf" (kontek sosio kultur) yang berupa pengecualian dan pembatasan terhadap ayat.
Yang ada dipikiran mereka adalah humanisme global yang rentan dengan hawa nafsu. Mereka lupa akan relevansi ayat atas mufrodat lughah yang berupa :
1. konteks inti (Muqtadhayât al-Ahwaal)
2. kondisi bahasa (nafs al-khithaab)
3. konteks mukhâthib (author)
4. konteks mukhâthab (audience)
Nah, ketahuan belangnya, mungkin Ulil perlu kaji ulang tentang Mufrodat Lughah. Dan perlu belajar ulang tentang "bil ma'tsur".
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment