Saturday, September 15, 2012

Menanggapi Film "Innocence of Muslims"




MEMANFAATKAN KONSEP OPOSISI BINER DIAMETRAL KEBEBASAN ETIK DAN ESTETIKA DALAM "CINEMATIC CHARACTER ATTACK"

Islam rentan dengan "cinematic character attack", karena dunia sekuler faham, bahwa di bawah dalih kebebasan estetis yang eksplosif dan lewat buah tangan sineas sineas handal sekularis milik mereka akan dapat dengan mudah melakukan "Cinematic harrasment" atau pelecehan karakter sinema, dengan menyerang karakter inti.

Sineas sineas yang beraliran anti-fungsionalisme, menganggap seni adalah bebas eksplosif, berbeda dengan konsep aliran fungsionalisme, seperti tokoh seni Islam Sayyid Hussein Nasr yang memformulasikan seni sebagai obyek yang berkaitan dengan dimensi spiritual dan nilai-nilai Ilahiyah.

Jargon seni untuk seni (l'rt pour l'art), ditambah dengan Islamophobia semakin memantapkan sineas-sineas anti fungsionalisme untuk menghantam islam dengan super techno cinema mereka. Bagaimana sikap kita ? membuat tandingan ? mana sineas "rapid militant kita " ? punya nggak ? buatlah tandingan yang "tidak melecehkan" wahai sineas sineas muda Islam, buatlah tandingan yang menggambarkan Rasululloh SAW itu mempunyai sifat-sifat kenabian yang agung.

Namun cukup sulit juga karena ada "Kode etik" yang membatasi yaitu sopan santun untuk menggambarkan tampilan fisik Rasululloh SAW, perwajahan Rasululloh saw. Yaa Rasul begitu agung perwajaan mu, hingga tiada daya untuk menganimasikannya. Kode etik inilah yang dimanfaatkan sineas sineas anti fungsional untuk membuat mati kutu para sineas sineas fungsional.

No comments:

Post a Comment