Bismillahi Allohuakbar............
Gencarnya pengukuhan pembenaran pada masing masing firqoh di tubuh Islam membuat dampak koagulasi antipati (Penggumpalan sikap cuek) pada titik kritis. Sementara teror fitnah atas tindak biadab terus bergulir. Ada yang mengekstrimkan diri pada titik perlawanan membabi buta, ada pula yang bersantai santai pada titik damai. Yang parah ialah bersekongkol dengan penghancur massal. Siapakah penghancur massal itu ?
Penghancur massal adalah sebuah "state" yang mempunyai kekuatan penuh dalam memberangus rakyatnya. Negara berhak, dan inilah titik kritis koagulasi antipati. Bila negara sudah "tersinggung", maka segalah kekuatan akan diberikan untuk menghentikannya. Disinilah muncul sikap saling menyalahkan. Yang berposisi ekstrim akan ngotot inilah "yang paling benar". Sedang yang berposisi damai, akan mengutuk "ah..keranjingan qital ". Dan negara akan menyebutnya, "kalian teroris non state!!!!"
Lengkap sudah koagulasi antipati penghancur massal. Intern terkoyak, ekstern diberangus habis habisan. Secara strategis kita dirugikan. Tindakan sporadis tanpa didukung "state", akan selalu begitu, hasil minim, namun menimbulkan imbas yang maha dahsyat. Yang ideal adalah buatlah " State Terrorisme". Dimana sebuah negara mendukung "pergerakan maha langit". Contohnya Madinah al munawarah, pergerakan disiyu adalah "state terrorisme" bukan kategori "Non state terorrisme", jika kita meminjam istilah "mereka".
No comments:
Post a Comment